by

Di Hari Rusia serang Ukraina, China dan Taiwan ikut memanas!!

Kamis (24/2) dini hari waktu setempat, Presiden Rusia memerintahkan armada militer negaranya untuk menginvasi Ukraina. CNN melaporkan bahwa Rusia sudah masuk wilayah Ukraina, dan melancarkan serangan darat dan udara di berbagai wilayah, ditambah serangan siber yang menargetkan bank dan situs pemerintah Ukraina.

Putin dilaporkan mengeklaim bahwa Barat menggunakan aliansi untuk menekan batas di Rusia, dan dia ingin NATO menghentikan aktivitas militernya di Eropa timur.
Serangan ini bukanlah deklarasi perang terhadap NATO, tapi manifestasi dari upaya Rusia mengamankan posisinya di masa depan.


“Putin tidak akan menyerang NATO. Dia hanya ingin menjadikan Ukraina menjadi sebuah negara bawahan (vassal state) seperti Belarusia,” kata seorang petinggi militer Inggris, seperti dikutip BBC.


Ketika isu Rusia akan menginvasi Ukraina naik beberapa minggu lalu, ada negosiasi yang disponsori oleh negara-negara NATO. Rusia merespons tidak akan melancarkan aksi militer ke Ukraina jika permintaannya dikabulkan, salah satunya ialah NATO tidak akan menambahkan anggota baru, khususnya Ukraina.


Selain itu, Rusia juga meminta NATO tidak menempatkan tentara-tentaranya di sekitar Rusia, khususnya di negara-negara Eropa Timur yang gabung NATO setelah tahun 1997. NATO tampaknya mencoba mencari alternatif lain karena tidak bisa menerima permintaan Rusia ini.


Jelas isu keamanan dan geopolitik memprakarsai keputusan Kremlin untuk melumpuhkan kekuatan di Ukraina.

Ukraina, bersama dengan negara lain seperti Lituania, Latvia, dan Estonia (yang sudah gabung NATO), serta dengan Rusia pernah berada di bawah payung Soviet.


Putin menekankan bahwa keberadaan Ukraina sangat signifikan untuk keberadaan Uni Soviet. Kerajaan Kiev, yang menjadi cikal bakal Uni Soviet, berpusat di wilayah Ukraina saat ini.


“Spiritualitas kita, ikatan peradaban dan manusia terbentuk selama berabad-abad dan memiliki akar yang sama, mereka sudah ditempa oleh cobaan, pencapaian, dan kemenangan,” lanjut Putin.

Di tulisan yang sama, Putin mengatakan bahwa Rusia “menghormati” keinginan Ukraina untuk melihat negara mereka bebas, aman dan sejahtera.

Di sisi dunia yang lain, hubungan China dan Taiwan terus memanas. Kedua negara ini juga di ambang ancaman perang seperti Rusia dan Ukraina.


Pada saat  mata dunia tertuju pada insiden Rusia menyerang Ukraina, dilaporkan ada 9 pesawat jet tempur milik China memasuki wilayah udara Taiwan.

“Angkatan udara Taiwan bergegas pada hari Kamis untuk memperingatkan sembilan pesawat China yang memasuki zona pertahanan udara,” kata Kementerian Pertahanan Taiwan dikutip dari Reuters, Jumat (25/2).


Kementerian Pertahanan Taiwan melaporkan, 9 pesawat itu terdiri dari 8 pesawat tempur J-16 dan satu pesawat pengintai Y-8. Seluruh pesawat itu terbang di atas area di timur laut Kepulauan Pratas yang dikuasai Taiwan di ujung atas Laut China Selatan.


Pengerahan pesawat tempur terbanyak ke wilayah Taiwan terjadi pada 23 Januari lalu. Ketika itu, ada 39 pesawat tempur yang diterbangkan China untuk melintas di area Taiwan.


Juru bicara Kementerian Pertahanan China, Tan Kefei, menegaskan Taiwan adalah masalah inti China. Mereka tidak akan mentolerir segala bentuk campur tangan asing.


“Kami mendesak pihak AS untuk mengakui sensitivitas tinggi dari masalah Taiwan, berhenti mencampuri urusan dalam negeri China dan berhenti bermain api dalam masalah Taiwan,” kata Tan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed